SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA. SEMOGA BERMANFAAT :)

Minggu, 11 Desember 2011

Mobilitas Sosial Kelas XI IPS

BAB 3
MOBILITAS SOSIAL (SOCIAL MOBILITY)
A. Definisi dan Bentuk-Bentuk Mobilitas Sosial
1. Definisi Mobilitas Sosial
Secara etimologis, kata mobilitas berasal dari bahasa Latin, yaitu mobilis yang artinya mudah bergerak atau bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, dalam bahasa Inggris dikenal dengan mobility. Kata sosial yang ada pada istilah mobilitas sosial untuk menekankan bahwa istilah tersebut mengandung makna gerak yang melibatkan seseorang atau sekelompok warga dalam kelompok sosial.
Jadi, mobilitas sosial adalah perpindahan posisi seseorang atau sekelompok orang dari lapisan yang satu ke lapisan yang lain.
Menurut Soerjono Soekanto gerak sosial (social mobility) adalah suatu gerak dalam struktur sosial, yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial.
Mobilitas sosial juga berkaitan dengan :
Status sosial / posisi
Pelapisan sosial
Terbagi kelas :
 Lapisan atas
 Lapisan menengah
 Lapisan bawah
 Kecakapan/kemampuan/prestasi
2. Bentuk-Bentuk Mobilitas Sosial
a. Mobilitas Sosial Vertikal
Mobilitas sosial vertikal adalah perubahan kedudukan atau status sosial seseorang atau sekelompok orang menuju lapisan sosial yang berbeda, kepada tingkatan yang lebih tinggi ataupun ke tingkatan yang lebih rendah.
1) Bentuk Mobilitas Sosial Vertikal
Mobilitas vertikal dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:
a) Social Sinking
Social Sinking adalah proses penurunan status atau kedudukan seseorang. Proses ini bisa disebabkan oleh hal yang alamiah, misalnya bencana alam dan kebakaran.

Social sinking mempunyai 2 bentuk :
1) Turunnya kedudukan seseorang ke kedudukan yang lebih rendah, misalnya seorang prajurit yang dipecat karena melakukan tindakan indisipliner (desersi); dan atau
2) Tidak dihargainya lagisuatu kedudukan sebagai lapisan sosial atas, misalnya seorang yang menjabat direktur perusahaan, namun karena perusahaan yang dipimpinnya bermasalah, maka ia diturunkan menjadi staf direksi.
Sebab-sebab social sinking (mobilitas vertikal turun), antara lain sebagai berikut.
1) Memasuki masa pensiun sehingga diganti dengan generasi yang dibawahnya.
2) Berhalangan tetap atau sementara, misalnya sakit atau cacat tubuh akibat kecelakaan sehingga diganti dengan penjabat yang lain.
3) Melakukan kesalahan yang bersifat fatal sehingga diturunkan.

b) Social climbing
Social climbing adalah proses peningkatan status atau kedudukan seseorang.
Beberapa contoh social climbing yaitu sebagai berikut.
1) Polisi yang berprestasi dalam pekerjaannya kemudian dinaikkan jabatannya.
2) Seorang karyawan bank yang berprestasi karena kerjanya melebihi target yang ditetapkan, maka diberikan jabatan yang lebih tinggi.
3) Seorang dokter yang berhasil menemukan cara-cara pengobatan baru yang belum pernah ditemukan sehingga dinaikkan kedudukannya.

Social climbing memiliki 2 bentuk :
1) Naiknya status sosial renda ke status sosial yang lebih tinggi, dimana status ini telah tersedia, misalnya seorang lurah diangkat menjadi camat ; dan
2) Terbentuknya suatu kelompok baru yang lebih tinggi daripada lapisan sosial yang sudah ada.

Penyebab social climbing (mobilitas vertika naik), antara lain sebagai berikut.
1) Adanya peningkatan prestasi kerja.
2) Menggantikan kedudukan yang kosong akibat adanya proses peralihan generasi.

2) Prinsip Mobilitas Sosial Vertikal
a) Mobilitas sosial vertikal disebabkan oleh factor ekonomi, politik, dan jenis pekerjaan.
b) Mobilitas sosial vertikal terdapat pada setiap masarakat.
c) Mobilitas sosial dapat terjadi setiap saat, baik yang bersifat meningkat (social climbing) maupun penurunan posisi sosial (social sinking).
d) Setiap masyarakat mempunyai sistem tersendiri dalam proses mobilitas sosial vertikal, baik yang bergerak naik maupun yang bergeraka turun.
e) Betapa pun terbukanya sistem pelapisan yang ada dalam masyarakat, tetapi sedikit banyak dijumpai adanya hambatan untuk melakukan sosial vertikal.

3) Akibat Mobilitas Sosial vertikal (Effect of vertical Social Mobility)

Dengan adanya mobilitas sosial vertikal, baik naik maupun turun akan mengakibatkan perubahan sistem sosial. Hal ini dikarenakan terjadinya perubahan pola pikir dan kebijaksanaan yang diambil oleh individu-individu yang baru, yang menduduki posisi-posisi tertentu dalam masyarakat sehingga akan melahirkan sistem-sistem baru.

b) Mobilitas Sosial Horizontal
Mobilitas sosial horizontal pada dasarnya merupakan suatu bentuk perubahan atau pergeseran kedudukan individu ataupun kelompok individu dalam masyarakat dalam strata yang mendatar.
1) Contoh Mobilitas Sosial Horizontal
a) Seorang kepala sekolah SMA pindah ke SMA yang lain di wilayah lain dalam satu kota.
b) Seorang komandan daerah militer dari provinsi yang satu pindah ke wilayah provinsi lain untuk menduduki jabatan yang sama.
c) Seorang camat dipindahkan dari wilayah kerjanya ke wilayah kerja lain dalam satu kabupaten atau kota, dengan menduduki jabatan yang sama sebagai camat.

2) Bentuk Mobilitas Sosial Horizontal
Berdasarkan struktur wilayah ataupun struktur genetikanya mobilitas sosial dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

a) Mobilitas Sosial Antargenerasi
Mobilitas sosial antargenerasi merupakan salah satu bentuk dari mobilitas sosial horizontal yang meliputi satu lingkungan geneologis sehingga terjadi peralihan generasi yang satu terhadap generasi yang lain.
Mobilitas antargenerasi dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :

1) Mobilitas Intergenerasi
Mobilitas intergenerasi adalah perpindahan status atau kedudukan yang terjadi di antara beberapa generasi. Mobilitas intergenerasi terdiri atas 2 bentuk, yaitu :
 Mobilitas intergenerasi yang naik , dan
 Mobilitas intergenerasi yang turun.
2) Mobilitas Intragenerasi
Mobilitas intragenerasi adalah perpindahan status sosial yang terjadi dalam satu generasi yang sama. Dalam mobilitas ini bisa juga terjadi gerak naik dan turun.

b) Mobilitas Sosial Antarwilayah
Mobilitas sosial antarwilayah adalah semua bentuk perubahan atau perpindahan status oleh individu atau kelompok individu dari satu wilayah ke wilayah yang lain.

B. Faktor Pendorong dan Penghambat Mobilitas Sosial
1. Faktor Pendorong Mobilitas Sosial
a. Individu
Faktor individu yang dimaksud adalah mengenai kualitas perorangan, baik ditinjau dari segi tingkat pendidikan maupun keterampilan. Adapun yang termasuk dalam cakupan faktor individu adalah :
1) Perbedaan Kemampuan
Setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Mereka yang cakap mempunyai kesempatan dalam menentukan mobilitas sosial (keberhasilan hidup).
2) Orientasi Sikap terhadap Mobilitas Sosial
Keinginan individu untuk meningkatkan prospek mobilitas sosialnya dapat dicapai melalui pendidikan, kebiasaan kerja yang baik, penundaan kesenangan, dan memperbaiki penampilan diri.
b. Status Sosial
Setiap manusia dilahirkan dalam status sosial yang berbeda, dia mengikuti status sosial yang dimiliki oleh orang tuanya. Ketika dilahirkan, tidak ada satu manusia pun yang memiliki statusnya sendiri.
Apabila ia tidak puas dengan kedudukan yang diwariskan oleh orang tuanya, ia dapat mencari kedudukannya sendiri di lapisan sosial yang lebih tinggi.
c. Keadaan Ekonomi
Keadaan ekonomi dapat menjadi pendorong terjadinya mobilitas sosial. Hidup dalam keadaan ekonomi yang serba kekurangan, kemudian mereka yang tidak mau menerima keadaan ini berpindah tempat tinggal ke daerah lain (bermigrasi) atau ke kota (berurbanisasi), maka secara sosiologis mereka dikatakan mengalami mobilitas.
d. Situasi Politik
Situasi politik dapat menyebabkan terjadinya mobilitas sosial suatu masyarakat dalam sebuah negara. Keadaan negara yang tidak menentu akan memengaruhi situasi keamanan yang bisa mengakibatkan terjadinya mobilitas manusia ke daerah yang lebih aman. Bisa juga disebabkan oleh sistem politik pemerintahan yang bertentangan dengan hati nurani ataupun paham yang dianut.
e. Demografi dan Fertilitas
Faktor demografi (kependudukan) biasanya menyebabkan mobilitas dalam arti geografik. Pertambahan jumlah penduduk yang pesat mengakibatkan sempitnya tempat permukiman dan kemiskinan yang merajalela. Keadaan demikian mendorong sebagian warga masyarakat mencari tempat kediaman lain yang baru.
Termasuk juga dalam masalah kependudukan seperti angka fertilitas. Setiap masyarakat memiliki tingkat fertilitas (kelahiran) yang berbeda-beda. Tingkat fertilitas akan berhubungan erat dengan perkembangan dan kepadatan penduduk, serta jenis pekerjaan yang mempunyai kedudukan tinggi atau rendah.

2. Faktor Penghambat Mobilitas Sosial
a. Ekonomi (Kemiskinan)
Faktor ekonomi, selain dapat mendorong mobilitas sosial, di sisi lain juga dapat membatasi mobilitas sosial. Bagi masyarakat miskin, mencapai status sosial tertentu yang relatif tinggi tentu menjadi hal yang sangat sulit dilakukan.
b. Perbedaan Ras, Agama, dan Kelas Sosial
Dalam sistem kelas tertutup, tidak memungkinkan terjadinya mobilitas vertikal ke atas. Dalam agam tidak dibenarkan seseorang dengan sekehendak hatinya berpindah-pindah agama sesuai keinginannya.
c. Diskriminasi Gender
Perbedaan gender, dengan kondisi masyarakat yang demikian akan berpengaruh dalam mencapai prestasi, kekuasaan, status sosial, dan kesempatan-kesempatan yang ada dalam msyarakat.
d. Faktor Pengaruh Sosialisasi yang Sangat Kuat
Sosialisasi yang sangat kuat dalam suatu masyarakat dapat menghambat proses mobilitas sosial, terutama berkaitan dengan nilai-nilai dan adat yang berlaku.

e. Perbedaan Kepentingan
Adanya perbedaan kepentingan antarindividu dalam suatu struktur organisasi menyebabkan masing-masing individu saling bersaing untuk memperebutkan sesuatu.

C. Cara-cara khusus dan Wadah / Saluran Melakukan Mobilitas Sosial
1. Cara-cara khusus Melakukan Mobilitas Sosial
a. Perkawinan
Perkawinan merupakan cara yang efektif untuk menaikkan status sosial ekonomi seseorang.
b. Perubahan Standard Hidup
Perubahan standar hidup dapat dilakukan dengan mengubah kebiasaan- kebiasaan atau gaya hidup.
c. Perubahan Tingkah Laku
Seseorang yang ingin menaikkan status sosialnya biasanya diikuti juga dengan perubahan tingkah laku.
d. Perubahan Nama
Perubahan nama juga merupakan cara penting dalam melakukan mobilitas sosial. Di sebagian masyarakat, nama dapat mencerminkan status sosial ekonomi, misalnya panggilan raden akan membuat seseorang sangat dihargai di dalam masyarakat Jawa.

2. Wadah/Saluran Mobilitas Sosial ( Social Mobility Medium)
a. Pendidikan
Melalui penddidikan, seorang individu akan bertambah kemampuan, wawasan, dan pengalamannya sehingga lebih pantas untuk menduduki suatu jabatan atau kedudukan tertentu disbanding yang berpendidikan di bawahnya.
b. Agama atau Kepercayaan
Dalam mencapai suatu peningkatan kedudukan dalam masyarakat, ada sebagian orang yang menggunakan saluran agama dan kepercayaan. Dengan demikian, dirinya pantas untuk menempati kedudukan yang lebih tinggi.
c. Organisasi politik
Seseorang yang menginginkan kedudukan dalam badan legislatif atau eksekutif memilih organisasi politik sebagai sarana untuk menaikkan statusnya.
d. Organisasi Ekonomi
Organisasi ekonomi mempunyai peranan penting sebagai saluran gerak sosial vertikal naik. Ukuran yang menjadi dasar saluran ini yaitu kekayaan.
e. Sosial Budaya
Salah satu saluran yang dapat dipakai untuk meningkatkan kedudukan seorang individu dalam masyarakat adalah saluran sosial budaya. Dengan demikian, dapat membantu meningkatkan karier seseorang menuju tingkatan yang lebih baik.
f. Organisasi Profesi atau Keahlian
Adalah organisasi yang memupuk perkembangan dalam keterampilan yang bersifat khusus, melalui organisasi keahlian ini, seseorang memiliki peluang untuk melakukan mobilitas sosial.
g. Angkatan Bersenjata
Merupakan organisasi yang kedudukannya sangat dihormati (elite).
h. Perkawinan
Perkawinan juga bisa menjadi sarana dalam proses mobilitas sosial.

i. Transmigrasi dan Urbanisasi
Tansmigrasi dan urbanisasi dapat menjadi sarana untuk mobilitas sosial seseorang.
j. Perubahan Tingkah Laku
Seseorang yang berusaha menaikkan status sosialnya akan berusaha mempraktikkan bentuk-bentuk tingkah laku dan sifat dari kelas yang lebih tinggi. selain melalui saluran-saluran mobilitas sosial seperti yang telah dijelaskan di atas, secara umum terdapat 2 cara yang dapat digunakan untuk memperoleh suatu status sosial, yaitu :
1) Askripsi
Askripsi adalah cara untuk memperoleh kedudukan melalui keturunan.
2) Prestasi
Prestasi adalah cara untuk memperoleh kedudukan pada laipsan tertentu dengan usaha sendiri.

D. Dampak Mobilitas Sosial ( Impact of Social Mobility)
1) Dampak Positif
a. Meningkatkan Seseorang untuk Lebih Maju
Adanya kesempatan untu melakukan mobilitas sosial memotivasi seseorang untuk lebih berprestasi agar dapat menduduki status yang lebih tinggi.
b. Meningkatkan Integrasi Sosial
Mobilitas sosial yang terjadi dapat pula meningkatkan integrasi sosial. Misalnya, sekelompok orang yang melakukan transmigrasi, maka di antara mereka akan muncul semangat kebersamaan, saling mendukung, dan merasa senasib sepenanggungan sehingga dapat menciptakan integrasi sosial.
c. Mempercepat Tingkat Perubahan Sosial
Dengan adanya mobilitas sosial, memungkinkan terjadinya perubahan sosial ke arah yang lebih baik. Seseorang yang mengalami mobilitas sosial vertikal akan menggunakan teknologi modern untuk fasilitas hidupnya, seperti memiliki telepon genggam dan komputer.

2) Dampak Negatif
a. Timbulnya Konflik
Konflik sosial akam muncul apabila terjadi benturan nilai dan kepentingan dalam masyarakat akibat mobilitas yang kurang harmonis.
b. Berkurangnya Solidaritas Kelompok
Seseorang yang mengalami mobilitas sosial membutuhkan penyesuaian diri dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam kelas sosial yang baru.
Keadaan tersebut sering kali menyebabkan orang yang mengalami mobilitas sosial menjadi berkurang solidaritasnya terhadap kelas sosial yang lama, sehingga menimbulkan konflik dengan kelompok lama tersebut.
c. Timbulnya Gangguan Psikologis
Gangguan psikologis sering kali muncul dalam diri seseorang yang mengalami mobilitas sosial, seperti ketakutan dan kegelisahan pada seseorang yang mengalami mobilitas menurun.

A. Hubungan Struktur Sosial dan Mobilitas Sosial
Mobilitas sosial erat hubungannya dengan struktur sosial karena mobilitas sosial terjadi dalam suatu struktur sosial masyarakat.
1. Mobilitas Sosial dalam Stratifikasi Sosial Terbuka
Masyarakat yang memiliki sistem stratifikasi sosial terbuka (open social stratification) memberi kesempatan yang lebih besar kepada para anggotanya untuk melakukan mobilitas sosial vertikal yaitu dapat berupa social climbimg ataupun social sinking. Hal ini terjadi karena komunikasi antaranggota masyarakat dari berbagai strata bersifat lebih terbuka dan proses komunikasi serta perubahan berjalan lebih lancar.
2. Mobilitas Sosial dalam Stratifikasi Sosial Tertutup
Pada masyarakat yang menganut sistem stratifikasi sosial tertutup, kemungkinan terjadinya mobilitas sosial vertikal sangat kecil. Hal ini terjadi karena masyarakatnya lebih mengutamakan nilai-nilai tradisional, seperti pada masyarakat pedalaman, mereka lebih memilih menjaga nilai-nilai tradisional dan menolak adanya perubahan sehingga tidak terdapat mobilitas sosial vertikal dalam masyarakatnya.
Menurut Soedjatmoko (1980), mudah atau tidaknya seseorang melakukan mobilitas vertikal salah satunya ditentukan oleh kekakuan dan keluwesan struktur sosial di mana orang itu hidup.